Perjalanan Singkat Day 1

Sesuai dengan judul, saya kali ini akan menceritakan perjalanan singkat saya ke pekanbaru, riau.

Dan mengetik blog lewat email ini dari boarding room bandara hang nadim batam.

Ngapain saya ke pekanbaru?
Pertayaan bagus.

Saya ke pekanbaru untuk menjemput nenek saya yang lagi berada di rumah om saya. nenek saya tidak berani naek pesawat sendiri dari pekanbaru ke batam. Dan saya pun baru kali ini ke pekanbaru. Sendiri lagi.. Ckckckkckm
Semoga saya tidak hilang disana. Hihihii

pesawat yang saya naiki adalah lion air yang terbang jam 12.35 waktu batam.

awalnya tulisan diatas di buat dari blackberry ku dan di tulis di boarding room, tetapi entah kenapa semuanya tersend begitu aja dan sekarang ini saya memperbarui lagi tulisan saya ini.

well ok, lanjut menulis lagi.

didalam pesawat saya bersebelahan dengan bapak-bapak paruh baya yang memakai koyok (sepertinya). sudah pake koyok salah tempat duduk lagi. saya seharusnya duduk dekat jendela dan bapak bapak tersebut malah menempati tempat duduk saya dengan muka tak bersalah. dan saya usir dengan nada lembut "pak, itu tempat duduk saya" dan langsung di datangi pramugari yang menanyakan ada apa ini sebenarnya. y saya jelaskan apa masalahnya, dan disuruh change. dan saya merasa bersyukur duduk dekat jendela karena dapat melihat lihat keluar walaupun hanya awan putih. kalo saya duduk di ujung (aisle nama kerennya) saya mungkin hanya dapat memandangi orang2 duduk dan mencium bau bapak2 itu... hiiiii...
cukup masalah dengan bapak itu.


perjalanan pesawat saya ke pekanbaru hanya setengah jam walaupun sampe sananya tidak tepat setengah jam dikarenakan cuaca di pekanbaru tidak lagi bagus. dan akhirnya mendarat dengan di sambut tarian hujan yang sangat lebat ( saya bersyukur begitu nyampe hujan, dan sangat kasihan oleh orang2 batam yg sudah lama tidak hujan).
dikarenakan bandaranya tidak menggunakan seperti lorong untuk sampe di dalam gedung kita di harus kan lewat tangga dan menuju ke hallnya bandara melalui jalan luar. pada saat itu hujan daaaannn... pihak bandara menyiapkan PAYUNG sebagai peneduh kita dari terpaan hujan. dan payungnya pun berwarna warni (sayang tidak ada skrinsut, abis hujan seh). walaupun sudah dikasih payung semuanya, kami para penumpang tetep aja basah. doh!!

pengalaman saya, bandara yg sejauh ini bagus adalah bandaranya batam. besar dan tertip. dan bagus pula. sedangkan di medan dan pekanbaru sama, semuanya harus turun lewat tangga dan keluar lapangan untuk masuk ke hall bandara. begitu masuk ke hallnya bandara langsung kita dapatkan luncuran bagasi kita dan kecil (pekanbaru dan medan sama). padahal kalo diliat dari tata kota dan gedung2nya bagusan pekanbaru dan medan, tetapi mengapa bandarnya tidak bagus dan sempit??

kita singkirkan dulu pemikiran masalah bandara. biar mereka saja yang memikirkannya (tapi kan yang make dan ngerasain kan kita?). sebelum ke pekanbaru dan baru ini pertama kali ke sana, om saya sudah punya rencana: apa yg saya naiki saat keluar bandara, trus arahnya kemana dan sebagainya.


pertama, saya keluar dari bandara Syarif Kasim II haru menjumpai taxi yg sudah om saya pesenkan dan ternyata taxi tersebut adalah abang ipar dari om saya. tapi saat itu bukan abang iparnya om saya tetapi temennya yang datang menghampiri, eh... bukan dia yang menghampiri tapi saya dan saya kehujanan. basah.

selanjutnya saya di antar ke terminal yang menyediakan angkutan menuju ujung batu. dan nama angkutannya adalah SUPERBEN. gak tau penulisannya bener atau tidak, dikarenakan saya mendengarnya demikian dari masyarakat sekitar. dan cuaca masih hujan.

saya mendapati tempat duduk depan dan dekat cendela (sesuai harapan).

saya berangkat dari terminal itu sekitar jam 3 sore waktu setempat. dan harus nyampe jam 6 sore di ujung batunya.

perjalanan dari pekanbaru ke ujung batu sekitar 3-4 jam lamanya. dan perjalanannya terasa lama sekali karena yg tampak adalah hutan, perkebunan sawit dan sedikit perumahan.

rutenya: saya kurang jelas. yg pasti melewati kota bangkinang (mesjidnya keren dan lampu merahnya pake tenaga surya).

Nyampe kota ujung batunya-kotanya hanya sepanjang 1 kilo di tengah2 jalur lintas jalan raya dan hanya terdapat ruko2 di kanan kiri jalan, selebihnya hutan dan perumahan-dan saya bertemu om saya yang sudah 4 tahun tidak ketemu. Dia jemput pake motor dan saya langsung di ajaknya makan nasi goring *tau saya lagi lapar* :D

Cerita demi cerita dengan oom saya-bertajuk cara saya sampai di ujung batu-dan ternyata rumahnya tidaklah dekat dengan kotanya. Kita harus berjalan naek motor sejauh 2 kilo (perbatasan jalan raya dan perkebunan) dan jalan masuk perkebunan sawit sejauh 10 kilo (wow!!!!)

Karena gelap dan hujan saya tidak memperhatikan sajal yang saya lalui. Yang saya tahu ialah sepanjang jalan adalah pohon sawit. Ckckckck *geleng geleng kepala*

Sampai rumahnya si om, saya langsung di sambut dengan istrinya dan nenek saya *terharu* cium tangan. Cipika cipiki. Dan masuk ke rumah yang mungil tersebut, yang sangat sempit. Heeeemmm….

Cerita-cerita lagi dengan nenek saya bagaimana saya sampai ke ujung batu dan jam menunjukan jam 10. dan badan saya sudah pegel2 semua karena duduk saja selama 4 jam di dalam angkutan yang bising dan tidak mengenakan, panas lagi.

Akhirnya memilih tidur…

Archives