Setelah melewati
jalan yang ber-ular dan berjurang serta menikmati pemandangan yang indah, kami
sampai di Kota Berastagi. Kota di mana katanya terdapat buah, sayur, dan bunga
segar. Kota yang dingin dan bertambah dingin seiringnya waktu berlalu.
Waktu menunjukkan
pukul 4 sore. Setelah masuk ke dalam kotanya (kali ini tidak bayar) mendapatkan
kesan bahwa kotanya sedikit rapi namun banyak juga yg berantakan. Banyak vila
di sana sini. Rumah-rumah gedong. Dan tentunya kebun-kebun buah, sayur, dan bunga
di halaman rumah warga.
"Kita
kemana?" tanya saya ke abang sepupu
"Kita ke Bukit
Gundaling" jawabnya
"Ada apa?"
"Ada kuda"
"......"
 |
| Gunung Sibayak dari jendela warung |
Menuju bukit
Gundaling yang katanya sebuah taman di atas bukit sehingga kita bisa melihat
kota berastagi dari sana dan bisa melihat kuda.
Imajinasi saya
terhadap bukit ini adalah bersih, hijau, dan keren!
Ternyata imanijasi
saya ketinggian. Hijau sih karena masih ada pohon-pohon pinus menjulang tinggi.
Tetapi bau taik kuda dan jorok oleh sampah yang dibuang oleh pengunjung.
Untuk masuk ke sini
harus bayar (kalau tidak salah) Rp. 20.000/mobil tetapi begitu mendekati area
bukit tersebut dipungut lagi Rp. 5.000/mobil. Lah?
Sudah bayar eh malah
jorok dan bau taik kuda. Taik kudanya berserakan aja gitu di jalanan.
Tetapi yang excited
banget ketemu kuda adalah adik paling kecil saya. Dari dalam mobil saja sudah
teriak "UDA-UDA" (gak bisa bilang K). At least ada yang semangat di
sini.
Karena lapar, kami
singgah ke warung yang menjual pecel dan indomie. Pecelkan gak payah dimasak
kan yah? Jadinya ya kami makan pecel dingin. Teh hangat yang dipesen pun cepet
sekali menjadi dingin. Memang dingin sekali.
Daripada berkeluh
kesah dengan tempatnya yang tidak sesuai ekspetasi saya, mending saya foto-foto
narsis dah dengan adek-adek saya.
Selain foto narsis,
saya juga mendapatkan foto Gunung Sibayak dan foto macro. Yeay!
Setelah ke
Gundaling, kami lanjut ke sebuah vihara katanya. Begitu nyampe , loh kok gini?.
Tidak berkesan ke unikkannya. Karena viharanya bermodel modern jadi tidak dapat
feel buat foto.
Yang sangat saya
sesalkan adalah, abang sepupu tidak tahu jalan ke Pagoda Emas yang ada di
Berastagi. Jadi tidak sampai ke situ deh. Padahal keren :(
Hari sudah mulai
sore. Kabut pun mulai berdatangan dan udara semakin dingin. Kota Berastagi
berada di dataran tinggi, sehingga jikalau mau pulang ke Medan, kita harus
melewati jalanan menurun yang berkelok-kelok lagi. Tetapi pemandangannya bikin
berdecak!
Walaupun hari sudah
mulai gelap, tetapi pemandangannya masih nampak. Hutan. Lalu ada kabut datang
dan menjadi mistis. Seru!
Sempet-sempetnya
istri abang sepupu muntah karena masuk angin dan jalanan yang berkelok-kelok.
Hihihihi
 |
| Kabut di jalan turun dari Berastagi |
Selepas dari daerah
berastagi, saya terlelap tidur. Tidur dengan posisi yang tidak menyenangkan.
Eh, tau tau sudah sampai rumah. :P
20 jam tidak mandi!
:P