2014

SELAMAT TAHUN BARU 2014!!!!
TONENOTTONENOTTONENOTTONENOTTONENOT........

Gak nyangka sudah 2014 saja. Waktu terasa cepat sekali berlalu. Banyal hal yang belum tercapai di tahun 2013. Tapi marilah kita capai di tahun 2014 mendatang.

Di tahun 2014 ini gw mau mengumumkan sesuatu *drum roll*

GW PINDAH BLOG!!!

Pindah for good. Pindahnya ke saingannya si Blogger.com, Wordpress.com.
Dengan alamat yang sama dudiaditya.wordpress.com

Jadi, silahkan mengunjungi blog baru gw ya.

Selamat menempuh kehidupan di 2014 sodara-sodara!!!

New Experience



Memasuki dunia kerja lagi setelah beberapa lama (banget) meninggalkannya. Kesannya ya seperti pertama kali masuk kerja, nerveous.

Apalagi kali ini saya bekerja di perusahaan yang mempekerjakan lebih dari dua orang dalam satu kantor. Dan saya pun semakin gugup.

Ini dikarenakan saya pernah bekerja di satu perusahaan yang hanya mempunyai 2 orang karyawan; saya dan bos saya. Sehingga kali ini saya merasa lebih gugup karena saya diharuskan bersosialisasi dengan mereka.

Tidak menghitung satu tempat di mana saya bekerja untuk setahun lalu. Dikarenakan di tempat tersebut saya berasa magang bukan bekerja dan lagi pula lingkungannya lingkungan yang saya kenal; tempat kuliah saya. Jadi bukan merasa sebagai pekerja melainkan karyawan magang.

Sudah 2 minggu semenjak saya bekerja. Selama itu sih masih aman terkendali. Partner-partner yang lain sudah akrab. 

Pray for me :P

NB:  Dan tempat saya bekerja ini adalah tempat di mana saya pernah lewat dan  bergumam ‘kayak keren kerja di sini’ dan voila, saya bekerja di situ :D

Liburan ke Berastagi


Setelah melewati jalan yang ber-ular dan berjurang serta menikmati pemandangan yang indah, kami sampai di Kota Berastagi. Kota di mana katanya terdapat buah, sayur, dan bunga segar. Kota yang dingin dan bertambah dingin seiringnya waktu berlalu.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Setelah masuk ke dalam kotanya (kali ini tidak bayar) mendapatkan kesan bahwa kotanya sedikit rapi namun banyak juga yg berantakan. Banyak vila di sana sini. Rumah-rumah gedong. Dan tentunya kebun-kebun buah, sayur, dan bunga di halaman rumah warga.

"Kita kemana?" tanya saya ke abang sepupu
"Kita ke Bukit Gundaling" jawabnya
"Ada apa?"
"Ada kuda"
"......"

Gunung Sibayak dari jendela warung
Menuju bukit Gundaling yang katanya sebuah taman di atas bukit sehingga kita bisa melihat kota berastagi dari sana dan bisa melihat kuda.
Imajinasi saya terhadap bukit ini adalah bersih, hijau, dan keren!
Ternyata imanijasi saya ketinggian. Hijau sih karena masih ada pohon-pohon pinus menjulang tinggi. Tetapi bau taik kuda dan jorok oleh sampah yang dibuang oleh pengunjung.
Untuk masuk ke sini harus bayar (kalau tidak salah) Rp. 20.000/mobil tetapi begitu mendekati area bukit tersebut dipungut lagi Rp. 5.000/mobil. Lah?
Sudah bayar eh malah jorok dan bau taik kuda. Taik kudanya berserakan aja gitu di jalanan.
Tetapi yang excited banget ketemu kuda adalah adik paling kecil saya. Dari dalam mobil saja sudah teriak "UDA-UDA" (gak bisa bilang K). At least ada yang semangat di sini.

Karena lapar, kami singgah ke warung yang menjual pecel dan indomie. Pecelkan gak payah dimasak kan yah? Jadinya ya kami makan pecel dingin. Teh hangat yang dipesen pun cepet sekali menjadi dingin. Memang dingin sekali.
Daripada berkeluh kesah dengan tempatnya yang tidak sesuai ekspetasi saya, mending saya foto-foto narsis dah dengan adek-adek saya.
Selain foto narsis, saya juga mendapatkan foto Gunung Sibayak dan foto macro. Yeay!
 

Setelah ke Gundaling, kami lanjut ke sebuah vihara katanya. Begitu nyampe , loh kok gini?. Tidak berkesan ke unikkannya. Karena viharanya bermodel modern jadi tidak dapat feel buat foto.
Yang sangat saya sesalkan adalah, abang sepupu tidak tahu jalan ke Pagoda Emas yang ada di Berastagi. Jadi tidak sampai ke situ deh. Padahal keren :(

Hari sudah mulai sore. Kabut pun mulai berdatangan dan udara semakin dingin. Kota Berastagi berada di dataran tinggi, sehingga jikalau mau pulang ke Medan, kita harus melewati jalanan menurun yang berkelok-kelok lagi. Tetapi pemandangannya bikin berdecak!
Walaupun hari sudah mulai gelap, tetapi pemandangannya masih nampak. Hutan. Lalu ada kabut datang dan menjadi mistis. Seru!
Sempet-sempetnya istri abang sepupu muntah karena masuk angin dan jalanan yang berkelok-kelok. Hihihihi

Kabut di jalan turun dari Berastagi
Selepas dari daerah berastagi, saya terlelap tidur. Tidur dengan posisi yang tidak menyenangkan. Eh, tau tau sudah sampai rumah. :P
20 jam tidak mandi!
:P

LIburan ke Danau Toba (2)



Seperti yang saya beritahu melalui tulisan yang lalu, kami menyewa sebuah pondok untuk beristirahat sejenak menikmati pemandangan Danau Toba di pagi hari.
Kami pun melanjutkan jalan-jalan kami ke Pulau Samosir. Dengan menggunakan kapal, kami dibawa mengelilingi danau toba tidak secara seluruhan hanya dari Batu Gantung lalu langsung menuju Pulau Samosir. Dengan biaya Rp. 20.000/orang dewasa dan Rp. 10.000/anak2 sekolah dan menempuh sekitar 30 menit perjalanan. Apa saja yang disuguhkan ketika menuju pulau samosir? Ya pemandangan Danau Toba dari atas danaunya! Bukit-bukit yang mengelilinginya. Dinginnya udara. Birunya langit. Eyesgasm!!!


Sebenarnya sebentar sih perjalanan dari tempat kami berangkat menuju Batu Gantung lalu ke Pulau Samosir tetapi karena kapalnya mencari penumpang yang ingin juga ke Pulau Samosir jadi berasa lama banget. Adik saya yang masih bayi saja sampai bosan dan menangis. Duh.
Lalu jalanlah si kapal menuju Batu Gantung. Batu yang katanya jelmaan manusia yang dikutuk atau terkutuk (?) beserta anjing piaraannya. Untuk melihatnya, kita bisa menggunakan mata telanjang tetapi harus mengetahui mana batu tersebut. Dikarenakan warna batu dengan latar belakang tebingnya hampir sama. Lebih bagus lagi jika menggunakan teropong atau kamera ber-zoom. Barulah kita dapat melihat benar-benar batu gantung tersebut. Kata pemandunya sih batunya sudah tidak mirip lagi dengan wujud wanita dan anjing nya juga tidak mirip lagi dengan seekor anjing. Namanya juga legenda. Ada benar dan tidak benarnya. Nikmati saja.

Tomok - Pulau Samosir
Setelah dari batu gantung, kami pun sampai di pulau samosir. Daerah yang kami kunjungi adalah Tomok.
Untuk masuk ke Tomok, kami dikenakan biaya Rp. 5.000/orang.
Masuk kota, bayar.
Masuk pulau, bayar.
Haduh.
Apa yang dilihat di Tomok? Selain berjejernya toko-toko souvenir ada kuburan raja dan boneka menari.
Untuk melihat Boneka Menari, anda bakal dikenakan Rp. 5.000/orang. Dikarenakan bayar lagi, kami tidak jadi melihat Boneka yang bisa menari Tor-Tor tersebut. Kami hanya melihat makam raja lalu keliling-keliling melihat souvenir yang ada di sepanjang jalan Tomok. Panas matahari tidak mengurangi semangat para pelancong-pelancong yang semakin siang semakin ramai. Udara di sana pun dingin jadi walaupun terkena matahari kita masih merasa dingin. Tak heran orang-orang di sana pada 'keling' semua. :P
Setelah makan siang di salah satu rumah makan muslim (bukan nama orang tetapi rumah makan orang muslim atau halal) dan berbelanja mangga mungil serta belanja souvenir seperti baju dan gantungan kunci, kami pun kembali ke Prapat dengan menggunakan kapal yang sama. Jadi kalau ke Pulau Samosir kita hanya bayar sekali disaat berangkat lalu pulangnya gratis dengan menunjukkan tiket yang diberikan pada saat berangkat tadi dan boleh memilih mau naek ke kapal yang mana. Nanti diturunkan di tempat kita naek tadi. Mudahkan? Mana free mendengarkan lagu karo dan dangdut lagi.

View dari kapal menuju Pulau Samosir
Hari sudah siang dan panas matahari sudah meninggi tetapi tetap sejuk. Saatnya kami berangkat ke Berastagi yang bakalan memakan waktu 3-4 jam.
Mungkin akan ada pertanyaan "mandi gak di Danau Toba?"
Dan saya bakalan jawab "tidak"
Dikarenakan airnya dingin dan memang tidak ada niatan buat mandi di danau toba sehingga tidak membawa baju ganti. Menc elupkan kaki sih sudah. :P

Pemandangan sepanjang jalan menuju Berastagi
Perjalanan menuju Berastagi melewati jalur singkat (katanya) yang ternyata jauh juga. Tetapi terbayar oleh pemandangan yang sangat menakjubkan sepanjang jalan.
Jalan yang kami ambil adalah jalan di pinggiran tebing danau toba. Jadi pemandangan sepanjang jalan ialah danau toba itu sendiri. Beranjak dari ujung timur danau toba hingga ujung barat. Sepanjang jalan hanya terlihat hutan pinus dan semak belukar yang sangat indah namun berbahaya. Karena jalannya bekelok-kelok tajam dan sebelah kirinya jurang yang dalam. Untung saja punya sopir medan; abang sepupu.
Setelah melihat hutan pinus dan ujung danau toba serta ujung pulau samosir, kami dihadapkan dengan pemandangan lain yaitu kebun kopi dan kebun sayuran milik warga. Udara yang dingin serta tanah yang subur sangatlah cocok untuk tanaman tumbuh subur di sini.
Tetapi tiba-tiba ada macet di hadapan kami. Ternyata ada mobil travel yang masuk jurang. Tidak ada penumpang atau supirnya. Kata petugas kepolisian setempat, penumpang beserta sopir sudah dilarikan ke rumah sakit dan tidak ada korban jiwa. 1 jam kami menunggu mobil travel tersebut di angkat dari jurang. Memang sangat berbahaya jika kita tidak berhati-hati di jalanan yang rawan ini. Walaupun sudah beberapa kali mungkin supir travel tersebut melewatinya tetapi kalau sudah takdir apa boleh dikata.

Mata memang dimanjakan oleh alam. Hijau di mana-mana dengan latar belakang langit biru. Ada beberapa gunung kecil yang tampak menjulang di sana sini. Ingin rasanya punya rumah dan kebun di sini. Untuk hari tua nanti.
Memasuki daerah Kaban Jahe. Pemandangan di kanan kiri jalan sudah mulai nampak keriuhan sebuah kota kecil. Tidak ada lagi ladang luas dan tanaman hijau walaupun masih bisa melihat gunung-gunung tinggi.

Liburan ke Danau Toba


"Udah pernah ke Danau Toba atau Berastagi?" tanya abang sepupu
"Belom" jawab saya
"APAAAA??? Ya ampun, jadi liburan panjang gini ke mana aja di Medan? Di rumah aja?" tanyanya lagi
"iya (sambil cengengesan)" jawab saya

Dari percakapan itulah saya, emak, 3 adik dan abang sepupu beserta istri berangkat ke Prapat untuk melihat Danau Toba. Berangkat dari rumah sekitar pukul 1 dini hari. Dengan prediksi bakalan nyampe Prapat pukul 5 pagi atau pukul 6 pagi selambat-lambatnya.
Pertanyaan muncul ketika harus berangkat di pagi buta. "kenapa berangkatnya pagi buta"
"kalau pagi sehabis subuh kita berangkat, di sana (danau toba) sebentar aja. Nanti gak sempet ke mana-mana. Kan mau ke berastagi juga kan?" jawab sepupu saya panjang lebar
Saya pun hanya mengangguk.

Dengan jalanan medan yang masih sepi di pagi buta, rasanya cepat sekali sudah berada di ambang pintu tol Tj. Morawa. Yang biasanya kalau jam-jam sibuk bisa memakan waktu 1 jam. Kali ini sungguh cepat dan aman. Tetapi, setelah melewati pintu tol, air pendingin di mobil menunjukkan peningkatan. Sehingga AC dimatikan untuk mengurangi kenaikan itu yang dapat menyebabkan mobil mogok. Untuk lebih jelasnya saya nggak tau. :P
Dengan mengandalkan AC-alam, kami pun terlelap. Tidak dengan abang sepupu. Kalau dia terlelap, kami semua 'bener-bener terlelap'. :D

Entah sudah pukul berapa. Kami sudah berada di kota Siantar. Dengan udara sedingin AC yang mana sempat kami pikir AC mobil kembali berfungsi.
Jika sudah berada di kota Siantar, berarti tinggal 1 atau 2 jam lagi sampai di kota Prapat. Jalan yang kami lalui selama dari Medan ke Siantar aman-aman saja. Maksudnya aman di sini tidak ada tikungan tajam serta tebing yang curam. Tetapi ketika melewati Siantar jalanan yang kami tempuh penuh dengan kelok-kelokan tajam dan jurang serta tebing yang curam. Walaupun masih pagi banget, jalanan pun sudah ramai dengan kendaraan-kendaraan travel atau angkutan berat. Tetapi tetap lancar dan tidak ada hambatan seperti macet dan lain-lain.

Memasuki daerah Prapat. Kami berjalan persis berada di atas bukit Danau Toba. Jadi kalau siang hari bakalan kelihatan permukaan danau toba. Tapi karena masih pagi banget, yang kami lihat adalah hitam gelap. Istirahat sejenak di sebuah mesjid untuk menunaikan sholat subuh lalu dilanjutkan dengan masuk ke kota Prapat. Membayar Rp. 20.000 untuk satu mobil di gerbang kota bagi pengunjung. Entah bagaimana para penjaga gerbang tersebut mengetahui kami ini pengunjung. Apa mungkin ada tulisan tak kasat mata di depan mobil kami? Entahlah.

Kanan kiri jalan kota Prapat kebanyakan hotel-hotel kecil maupun besar. Ya karena ini adalah objek wisata sekaligus danau terbesar di Indonesia. Makanya tak heran ada banyak hotel-hotel di sini. Kami terus masuk ke dalam kota untuk mencari tempat yang biasa disewakan di tepi danau toba. Meskipun matahari belum muncul dan suasana masih gelap, tetapi sudah ramai sekali pengunjung! Mungkin seperti kami juga yang berangkat pagi buta untuk bisa berlama-lama di danau toba. Menyewa sebuah pondok seharga Rp. 100.000 untuk 3 jam ke depan di pinggiran danau toba. Harga ini terbilang cukup mahal dari harga biasanya. Kemungkinan besar dikarenakan masih libur lebaran dan mereka mengambil kesempatan. Yasudahlahya.

Magical Sunrise di Danau Toba
Beruntungnya pergi pagi buta adalah dapat menyaksikan matahari terbit di Danau Toba! Kapan lagi coba merasakan fenomena keren ini? Dan saya pun berucap syukur.
Jangan lupa membawa jaket. Karena udara di danau toba pagi hari dingin banget! Apalagi ketika angin bertiup, brrrrrr.... Serasa beku!. Hangat kan badan dengan minum-minuman hangat atau makan popmie. Banyak yang berjualan di pinggir danau tiba ini. Jadi jangan sampai kelaparan. Kami bawa bekal berupa air hangat dan teh. Jadinya ngeteh di pagi hari di pinggir danau toba. Whoaaa.

Bersambung :P

Archives