Seperti yang saya
beritahu melalui tulisan yang lalu, kami menyewa sebuah pondok untuk
beristirahat sejenak menikmati pemandangan Danau Toba di pagi hari.
Kami pun melanjutkan
jalan-jalan kami ke Pulau Samosir. Dengan menggunakan kapal, kami dibawa
mengelilingi danau toba tidak secara seluruhan hanya dari Batu Gantung lalu
langsung menuju Pulau Samosir. Dengan biaya Rp. 20.000/orang dewasa dan Rp.
10.000/anak2 sekolah dan menempuh sekitar 30 menit perjalanan. Apa saja yang
disuguhkan ketika menuju pulau samosir? Ya pemandangan Danau Toba dari atas
danaunya! Bukit-bukit yang mengelilinginya. Dinginnya udara. Birunya langit.
Eyesgasm!!!
Sebenarnya sebentar
sih perjalanan dari tempat kami berangkat menuju Batu Gantung lalu ke Pulau
Samosir tetapi karena kapalnya mencari penumpang yang ingin juga ke Pulau
Samosir jadi berasa lama banget. Adik saya yang masih bayi saja sampai bosan
dan menangis. Duh.
Lalu jalanlah si
kapal menuju Batu Gantung. Batu yang katanya jelmaan manusia yang dikutuk atau
terkutuk (?) beserta anjing piaraannya. Untuk melihatnya, kita bisa menggunakan
mata telanjang tetapi harus mengetahui mana batu tersebut. Dikarenakan warna batu
dengan latar belakang tebingnya hampir sama. Lebih bagus lagi jika menggunakan
teropong atau kamera ber-zoom. Barulah kita dapat melihat benar-benar batu
gantung tersebut. Kata pemandunya sih batunya sudah tidak mirip lagi dengan
wujud wanita dan anjing nya juga tidak mirip lagi dengan seekor anjing. Namanya
juga legenda. Ada benar dan tidak benarnya. Nikmati saja.
![]() |
| Tomok - Pulau Samosir |
Setelah dari batu
gantung, kami pun sampai di pulau samosir. Daerah yang kami kunjungi adalah
Tomok.
Untuk masuk ke
Tomok, kami dikenakan biaya Rp. 5.000/orang.
Masuk kota, bayar.
Masuk pulau, bayar.
Haduh.
Apa yang dilihat di
Tomok? Selain berjejernya toko-toko souvenir ada kuburan raja dan boneka
menari.
Untuk melihat Boneka
Menari, anda bakal dikenakan Rp. 5.000/orang. Dikarenakan bayar lagi, kami
tidak jadi melihat Boneka yang bisa menari Tor-Tor tersebut. Kami hanya melihat
makam raja lalu keliling-keliling melihat souvenir yang ada di sepanjang jalan
Tomok. Panas matahari tidak mengurangi semangat para pelancong-pelancong yang
semakin siang semakin ramai. Udara di sana pun dingin jadi walaupun terkena
matahari kita masih merasa dingin. Tak heran orang-orang di sana pada 'keling'
semua. :P
Setelah makan siang
di salah satu rumah makan muslim (bukan nama orang tetapi rumah makan orang
muslim atau halal) dan berbelanja mangga mungil serta belanja souvenir seperti
baju dan gantungan kunci, kami pun kembali ke Prapat dengan menggunakan kapal yang
sama. Jadi kalau ke Pulau Samosir kita hanya bayar sekali disaat berangkat lalu
pulangnya gratis dengan menunjukkan tiket yang diberikan pada saat berangkat
tadi dan boleh memilih mau naek ke kapal yang mana. Nanti diturunkan di tempat
kita naek tadi. Mudahkan? Mana free mendengarkan lagu karo dan dangdut lagi.
![]() |
| View dari kapal menuju Pulau Samosir |
Hari sudah siang dan
panas matahari sudah meninggi tetapi tetap sejuk. Saatnya kami berangkat ke
Berastagi yang bakalan memakan waktu 3-4 jam.
Mungkin akan ada
pertanyaan "mandi gak di Danau Toba?"
Dan saya bakalan
jawab "tidak"
Dikarenakan airnya
dingin dan memang tidak ada niatan buat mandi di danau toba sehingga tidak
membawa baju ganti. Menc elupkan kaki sih sudah. :P
![]() |
| Pemandangan sepanjang jalan menuju Berastagi |
Perjalanan menuju
Berastagi melewati jalur singkat (katanya) yang ternyata jauh juga. Tetapi
terbayar oleh pemandangan yang sangat menakjubkan sepanjang jalan.
Jalan yang kami
ambil adalah jalan di pinggiran tebing danau toba. Jadi pemandangan sepanjang
jalan ialah danau toba itu sendiri. Beranjak dari ujung timur danau toba hingga
ujung barat. Sepanjang jalan hanya terlihat hutan pinus dan semak belukar yang
sangat indah namun berbahaya. Karena jalannya bekelok-kelok tajam dan sebelah
kirinya jurang yang dalam. Untung saja punya sopir medan; abang sepupu.
Setelah melihat
hutan pinus dan ujung danau toba serta ujung pulau samosir, kami dihadapkan
dengan pemandangan lain yaitu kebun kopi dan kebun sayuran milik warga. Udara
yang dingin serta tanah yang subur sangatlah cocok untuk tanaman tumbuh subur
di sini.
Tetapi tiba-tiba ada
macet di hadapan kami. Ternyata ada mobil travel yang masuk jurang. Tidak ada
penumpang atau supirnya. Kata petugas kepolisian setempat, penumpang beserta
sopir sudah dilarikan ke rumah sakit dan tidak ada korban jiwa. 1 jam kami menunggu
mobil travel tersebut di angkat dari jurang. Memang sangat berbahaya jika kita
tidak berhati-hati di jalanan yang rawan ini. Walaupun sudah beberapa kali
mungkin supir travel tersebut melewatinya tetapi kalau sudah takdir apa boleh
dikata.
Mata memang
dimanjakan oleh alam. Hijau di mana-mana dengan latar belakang langit biru. Ada
beberapa gunung kecil yang tampak menjulang di sana sini. Ingin rasanya punya
rumah dan kebun di sini. Untuk hari tua nanti.
Memasuki daerah
Kaban Jahe. Pemandangan di kanan kiri jalan sudah mulai nampak keriuhan sebuah
kota kecil. Tidak ada lagi ladang luas dan tanaman hijau walaupun masih bisa
melihat gunung-gunung tinggi.





Post a Comment