LIburan ke Danau Toba (2)



Seperti yang saya beritahu melalui tulisan yang lalu, kami menyewa sebuah pondok untuk beristirahat sejenak menikmati pemandangan Danau Toba di pagi hari.
Kami pun melanjutkan jalan-jalan kami ke Pulau Samosir. Dengan menggunakan kapal, kami dibawa mengelilingi danau toba tidak secara seluruhan hanya dari Batu Gantung lalu langsung menuju Pulau Samosir. Dengan biaya Rp. 20.000/orang dewasa dan Rp. 10.000/anak2 sekolah dan menempuh sekitar 30 menit perjalanan. Apa saja yang disuguhkan ketika menuju pulau samosir? Ya pemandangan Danau Toba dari atas danaunya! Bukit-bukit yang mengelilinginya. Dinginnya udara. Birunya langit. Eyesgasm!!!


Sebenarnya sebentar sih perjalanan dari tempat kami berangkat menuju Batu Gantung lalu ke Pulau Samosir tetapi karena kapalnya mencari penumpang yang ingin juga ke Pulau Samosir jadi berasa lama banget. Adik saya yang masih bayi saja sampai bosan dan menangis. Duh.
Lalu jalanlah si kapal menuju Batu Gantung. Batu yang katanya jelmaan manusia yang dikutuk atau terkutuk (?) beserta anjing piaraannya. Untuk melihatnya, kita bisa menggunakan mata telanjang tetapi harus mengetahui mana batu tersebut. Dikarenakan warna batu dengan latar belakang tebingnya hampir sama. Lebih bagus lagi jika menggunakan teropong atau kamera ber-zoom. Barulah kita dapat melihat benar-benar batu gantung tersebut. Kata pemandunya sih batunya sudah tidak mirip lagi dengan wujud wanita dan anjing nya juga tidak mirip lagi dengan seekor anjing. Namanya juga legenda. Ada benar dan tidak benarnya. Nikmati saja.

Tomok - Pulau Samosir
Setelah dari batu gantung, kami pun sampai di pulau samosir. Daerah yang kami kunjungi adalah Tomok.
Untuk masuk ke Tomok, kami dikenakan biaya Rp. 5.000/orang.
Masuk kota, bayar.
Masuk pulau, bayar.
Haduh.
Apa yang dilihat di Tomok? Selain berjejernya toko-toko souvenir ada kuburan raja dan boneka menari.
Untuk melihat Boneka Menari, anda bakal dikenakan Rp. 5.000/orang. Dikarenakan bayar lagi, kami tidak jadi melihat Boneka yang bisa menari Tor-Tor tersebut. Kami hanya melihat makam raja lalu keliling-keliling melihat souvenir yang ada di sepanjang jalan Tomok. Panas matahari tidak mengurangi semangat para pelancong-pelancong yang semakin siang semakin ramai. Udara di sana pun dingin jadi walaupun terkena matahari kita masih merasa dingin. Tak heran orang-orang di sana pada 'keling' semua. :P
Setelah makan siang di salah satu rumah makan muslim (bukan nama orang tetapi rumah makan orang muslim atau halal) dan berbelanja mangga mungil serta belanja souvenir seperti baju dan gantungan kunci, kami pun kembali ke Prapat dengan menggunakan kapal yang sama. Jadi kalau ke Pulau Samosir kita hanya bayar sekali disaat berangkat lalu pulangnya gratis dengan menunjukkan tiket yang diberikan pada saat berangkat tadi dan boleh memilih mau naek ke kapal yang mana. Nanti diturunkan di tempat kita naek tadi. Mudahkan? Mana free mendengarkan lagu karo dan dangdut lagi.

View dari kapal menuju Pulau Samosir
Hari sudah siang dan panas matahari sudah meninggi tetapi tetap sejuk. Saatnya kami berangkat ke Berastagi yang bakalan memakan waktu 3-4 jam.
Mungkin akan ada pertanyaan "mandi gak di Danau Toba?"
Dan saya bakalan jawab "tidak"
Dikarenakan airnya dingin dan memang tidak ada niatan buat mandi di danau toba sehingga tidak membawa baju ganti. Menc elupkan kaki sih sudah. :P

Pemandangan sepanjang jalan menuju Berastagi
Perjalanan menuju Berastagi melewati jalur singkat (katanya) yang ternyata jauh juga. Tetapi terbayar oleh pemandangan yang sangat menakjubkan sepanjang jalan.
Jalan yang kami ambil adalah jalan di pinggiran tebing danau toba. Jadi pemandangan sepanjang jalan ialah danau toba itu sendiri. Beranjak dari ujung timur danau toba hingga ujung barat. Sepanjang jalan hanya terlihat hutan pinus dan semak belukar yang sangat indah namun berbahaya. Karena jalannya bekelok-kelok tajam dan sebelah kirinya jurang yang dalam. Untung saja punya sopir medan; abang sepupu.
Setelah melihat hutan pinus dan ujung danau toba serta ujung pulau samosir, kami dihadapkan dengan pemandangan lain yaitu kebun kopi dan kebun sayuran milik warga. Udara yang dingin serta tanah yang subur sangatlah cocok untuk tanaman tumbuh subur di sini.
Tetapi tiba-tiba ada macet di hadapan kami. Ternyata ada mobil travel yang masuk jurang. Tidak ada penumpang atau supirnya. Kata petugas kepolisian setempat, penumpang beserta sopir sudah dilarikan ke rumah sakit dan tidak ada korban jiwa. 1 jam kami menunggu mobil travel tersebut di angkat dari jurang. Memang sangat berbahaya jika kita tidak berhati-hati di jalanan yang rawan ini. Walaupun sudah beberapa kali mungkin supir travel tersebut melewatinya tetapi kalau sudah takdir apa boleh dikata.

Mata memang dimanjakan oleh alam. Hijau di mana-mana dengan latar belakang langit biru. Ada beberapa gunung kecil yang tampak menjulang di sana sini. Ingin rasanya punya rumah dan kebun di sini. Untuk hari tua nanti.
Memasuki daerah Kaban Jahe. Pemandangan di kanan kiri jalan sudah mulai nampak keriuhan sebuah kota kecil. Tidak ada lagi ladang luas dan tanaman hijau walaupun masih bisa melihat gunung-gunung tinggi.

Archives