Hari itu minggu tanggal 19 Juni 2011.
Jam 9 pagi sudah ada di pelabuhan domestik Sekupang.
Kita (mas Joko, mas Hasan, dan bang Oki) berangkat menggunakan kapal ferry Dumai Express. Tanjung Balai Karimun itu berbentuk pulau yang sama dengan Batam dan berada di Barat Daya pulau Batam. Perjalanan menggunakan kapal ferry selama 1,5 jam. Sudah ketebak bagaimana keadaan di kapal tersebut: BIKIN PUSING. Yep, gw rada agak merasa tidak nyaman ketika naek kapal untuk perjalanan yang memakan waktu lebih dari 1 jam. Perasaan mual dan ingin muntah terus menggelayuti otak dan perut ini. Apalagi bau khas didalam kapal yang pengen gw semprot pake parfum gw *sombong*. Untungnya, didalam kapal tersebut tidak ada orang yang menggunakan minyak angin atau semacamnya, kalau tidak gw pasti udah sempoyongan dan muntah. Untuk meredakan rasa ingin muntah, gw memutuskan untuk tidur. Membaca buku pun akan membuat anda merasa muntah juga. Dengan gelombang laut yang agak tinggi pada saat itu.
Sampai di Tg. Balai Karimun jam 11an. Pertama kali melihat pelabuhan dan pulaunya, bayangan saya sudah menjurus ke Kota Tg. Pinang yang merupakan kota tua, begitu juga Tg. Balai Karimun ketika keluar dari pelabuhan. Gw melihat jalanan yang relatif kecil (ciri-ciri kota tua) dan bangunan yang berdesakan serta tua. Panas matahari Tg. Balai Karimun dan Batam sama saja: PANAS!!! *ya iyalah*
Kami di jemput sama teman yang sudah menetap dan bekerja di Tg. Balai Karimun. Alasan kami datang ke Tg. Balai Karimun juga karena si teman tersebut minta di foto. Kurang tau untuk apaan fotonya. Mungkin untuk di pajang di rumah ato mau di jadikan model majalah aneka satwa. Siapa yang tau? *ngikik*
Kami di ajak berkeliling sebentar melewati deretan ruko-ruko yang sudah tua dan jalan yang sempit. Aroma ke-chinese-an sangatlah mencolok dari kota ini. Karena sebagian yang mempunyai ruko-ruko di kota ini adalah orang keturunan tionghoa yang sudah ada semenjak dahulu kala.
Ciri-ciri kota tua yang lainnya adalah, jalan di luar kota sangat lah lebar. Jalan dua arah yang di tengahnya ada pulau jalan. Hal ini di sebabkan jalanan di dalam kota tidak mungkin di perlebar lagi. kalau pun di perlebar, pemerintah bakal mengeluarkan uang banyak untuk membeli tanah dan bangunan milik warga.
Pusat pemerintahan pun terletak agak jauh dari kota. Dikarenakan bangunannya baru dan besar. Satu lagi yang unik dari Tg. Balai Karimun adalah hampir rata-rata perumahan disini warna kuning dan hijau. Ini di karenakan unsur melayu yang masih melekat di kota ini. Logat masyarakat disini pun masih fasih melayu sangat.
Selanjutnya, kami di bawa ke sebuah taman yang sangat asri dan rindang dengan pohon-pohon hijau. Disebelah taman itu terdapat gereja besar agama Kristen Katolik. Dan disitulah mereka berfoto-foto ria. Mengambil sudut hijau dan indahnya taman tersebut. Setelah puas hampir 2 jam disitu, kami pun mencari lokasi baru yang memiliki ke khas-an dalam sebuah teknik photography *tsaaaahhh*
Terdapatlah bangunan tua belum jadi dan tak terurus. Disamping samping bangunan tersebut juga terdapat batu batu alam yang gede-gede. Jadi pantas lah tempat itu dalam segi fotografi. Potret satu dua tiga gaya. Sudah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang yang mana kapal terakhir ke batam pukul 16.00 sore. Padahal masih ada satu tempat lagi yang ingin digunakan untuk pemotretan ini *halah*
Tempat berikutnya ialah pantai. Bernama pantai Pongkar. Pantai yang mempunyai garis pantai panjang ini dan berpasir agak putih serta air laut yang sedikit cokelat. Mungkin saja hal ini disebabkan oleh hujan yang melanda pagi hari, ngaruh yah? entahlah.
Gw yang doyan main di pantai dan pengen mandi, jadi tidak berniat. Tapi kelandaian pantainya sudah bisa dikatakan OKE. Kebetulan pada saat itu tidak terlalu pasang.
Jadilah sesi pemotretan berlanjut. dan gw ikutan motret pake kamera teman.
Selesai pemotretan di pantai, kami pun pulang, dikarenakan sudah pukul 3 sore. Kami mengejar waktu untuk tidak ketinggalan kapal. Seharusnya kami kesana pada hari sabtu, sehingga dapat bermalam di rumah atau hotel di Tg. Balai Karimun, tetapi dikarenakan tuan rumah tidak bisa maka dari itu kami harus pulang hari. Perjalanan dari pantai Pongkar ke pelabuhan yang terletak di kota tergolong jauh. Tetapi kata tuan rumah, dekat hanya setengah jam. Tapi bagi kami yang baru datang pertama kali ke Tg. Balai Karimun itu sangatlah jauuuuhhh....
Tibalah kami di pelabuhan sekitar jam 4an. Wah, sudah telat dong? tetapi sesampainya di loket Dumai Express, kapal belum juga berlabuh. Syukurlah. Kalau saja kami ketinggalan kapal, bakalan ada yang tidak bekerja satu kantor, dikarenakan kunci kantor sama dia. hahahahah.
Emang sangat disayangkan pergi kesatu pulau yang pertama kali di datangi dan tidak menjelajah secara maksimal pulau tersebut. Tapi apa daya yang tidak disengaja. hohohohoho.
Kapal pun merapat pukul 16.30. dan kami berangkat pulang ke Kota Batam.
Naik kapal, menuju dek paling atas, tetapi penuh maka kami putuskan dek luar saja. Duduk di dek yang beralaskan kayu dan menikmati sejuknya angin laut *pulang-pulang masuk angin* dan cipratan air laut yang lengket.
Tapi, perjalanan 1,5jam itu tak terasa dikarenakan melihat langit luas dan hamparan air laut yang membentang. Semburat merah matahari sore sangatlah keren saat itu. Sayang, matahari terbenamnya tidak nampak. Kalau saja muncul, maka kerenlah sore itu.
Sampai Batam pukul 18.30 dan hari sudah gelap. Melancarkan keganasan manusia kelaparan yang satu harian tidak makan *gegara mengejar kapal* jadilah kami makan soto di kawasan sekupang.
haaaa... nikmatnya *walau rada asin* :P
Berharap, suatu hari, kesana lagi dan menjelajah lagi, dan
Berharap, suatu hari, berpetualang ke pulau-pulau lainnya di sekitaran batam. amin.
Trip to Tanjung Balai Karimun
Posted in batam, jalan jalan, motret, Tg Balai Karimun
Post a Comment