Ternyata, orang indonesia itu banyak yang miskin.
Bukan hanya miskin harta tapi miskin ilmu dan pengetahuan.
Miskin ilmu dan pengetahuan yang mengakibatkan miskin harta.
Semalem mendengarkan para sesepuh menceritakan bagaimana mereka yang telah mensurvei sebagian penduduk miskin di kampungnya.
Seorang teman bercerita, dia mensurvei sebuah desa di sumatera daratan.
dia bertanya kepada Kelurahan setempat dimana desa/RT yang miskin.
seketika itu dia datangi RT tersebut, dia menanyakan lagi siapa sajakah warganya yang miskin.
maka RT tersebut menyebutkan warganya dan dia mendatanginya.
bertanya-tanya apa pekerjaan sehari-harinya. apa saja pengeluaran. berapa pendapatan sehari.
Hasil dari survei tersebut sangatlah mencengangkan. Dimana sibapak pemilik rumah tersebut adalah petani karet yang kerjanya mengumpuli / membuat jalinan getah karet. bapak tersebut di bayar per hari Rp. 40.000. dan bayangkan kalau sebulan (jika sibapak bekerja tiap hari) Rp. 1.200.000 sudah ada ditangan. ini belum lagi istri dan anak sibapak yang ikut membantu dan mendapatkan gaji yang serupa. jika di gabung, gaji mereka sebulan adalah Rp. 3.600.000. nah, dia hanya heran saja kenapa dengan uang sejumlah segitu mengapa mereka masih kekurangan dalam hal mennyukupi kehidupan mereka. mereka bilang kalo selama ini upah segitu hanya untuk hari itu. mereka tidak memikirkan kedepan, untuk mencukupi kehidupannya seminggu lagi. mereka tidak mengenal namanya menabung. kata mereka syukur bisa hidup hari ini. dan mereka menyangka kalau besok toh dapet lagi segini.
Lain lagi temen yang bercerita tentang seorang pemudanya yang bekerja sebagai supir angkot. pendapatan harian dia sehari itu berkisar antara Rp. 20.000 - Rp. 100.000. dan dia tidak mempunyai tabungan sama sekali. pokoknya dia terima uang tersebut hanya untuk mencukupi kebutuhannya hari itu juga. dia tidak berfikir kalo tiba-tiba dia sakit, atau tidak lagi menjadi supir angkot. bagaimana dia dapat menghidupi selama dia mencari pekerjaan baru atau membeli obat untuk sakit?. mirisnya lagi, dengan uang segitu biasanya mereka pergi kekota hanya untuk bersenang-senang. kenapa harus melakukan hal seperti itu? dengan uang Rp. 50.000 saja di kampung itu sudah bisa membiayai sampai seminggu kemudian. mengapa tidak di tabung saja?
Memang ironis melihat kehidupan mereka.
Di satu sisi mereka ingin hidup mapan, di satu sisi lain mereka tidak tau menau tentang Menabung dan memikirkan kehidupan mereka, at least untuk hidup seminggu kemudian.
Saya bukannya ingin memnyudutkan mereka. tapi kenapa tidak berpikir untuk menyisakan uangnya untuk hari kemudian. lah, kalo emang mendapatkan lagi besoknya, itukan bisa untuk di tabung dan bisa di pergunakan seminggu lagi, begitu selanjutnya.
Kemungkinan sadar akan budaya menabung di indonesia ini kurang. terutama masyarakat kelas menengah ke bawah.
Mereka hanya punya pola pikir bahwa, saya bisa mencukupi hidup sekarang saja sudah bersyukur.
Seharusnya mereka merubah pola pikir mereka dengan melihat kedepan.
Apa yang harus mereka lakukan besoknya, atau seminggu kemudian, dan lebih bagus mereka dapat memikirkan sebulan kemudian.
Saya hanya berharap, mereka-mereka yang tidak punya pola pikir seperti orang yang mempunyai pikiran masas depan, bertobat. hahahahah.
ini untuk mewujudkan masyarakat yg tidak miskin.
semoga mereka sadar.
amin
Post a Comment